Masih dalam topik resensi buku Tuck Everlasting, aku
menemukan dua kutipan yang menurutku menarik. Sebenarnya ada lebih banyak
kutipan yang menarik (termasuk dari perkataan tokoh Tuck), namun jadinya akan
banyak mengungkap isi buku jika kujabarkan.
Kalau kaupikirkan, kepemilikan sebuah tanah adalah hal yang aneh. Sebenarnya, seberapa dalam tanah bisa kaumiliki? Jika seseorang memiliki sebidang tanah, apakah dia memilikinya sampai jauh ke dalam tanah, dengan dimensi yang terus menyempit, sampai ke inti bumi? Atau apakah pemilikan akan tanah hanya terbatas pada kerak bumi yang tipis yang tak pernah dilalui cacing-caing yang ramah? (hal. 6)
Nah, aku juga pernah berpikir seperti ini. Namun tambahan, aku juga memikirkan yang
lain. Tepatnya sejak kapan orang mulai melakukan jual beli tanah? Mengapa
orang-orang membeli tanah? Kepada siapa mereka membeli tanah? Apa kepada negara? Jika iya, uang itu digunakan negara untuk apa? Untuk membuat fasilitas
bagi warga negaranya? Lalu bagaimana jika ada yang tidak bisa membeli tanah? Dia
tidak bisa punya rumah, dong (setidaknya punya tanah dan bangunan yang resmi)?
Mungkin kelihatan lucu, sepele, dan nggak penting untuk
ditanyakan, tapi bagi yang tahu jawabannya bisa tulis di kolom komentar ya
hahaha.
Tetapi, dia tidak pernah ingin tahu tentang hutan itu. Sesuatu yang kaumiliki tidak pernah menarik—jika kau tidak memilikinya barulah ia menjadi menarik. (hal. 7)
Ini sering sekali terjadi dalam kehidupan. Nama lainnya,
tidak bersyukur dengan kehidupannya. Tidak bersyukur dengan apa yang dimiliki.
Sebagai gantinya, orang akan lebih memerhatikan kehidupan orang lain yang tidak
dipunyainya dan membatin “Andai aku juga seperti dia, maka aku akan bahagia
sekali."
Tak usah sok mulia, jujur saja aku juga seperti itu. Tentu
saja tidak sampai level dengki, dimana aku amat iri dengan apa yang dipunya
orang lain dan jadi senang kalau mereka kehilangan.
Inilah salah satu alasanku untuk berhenti main media sosial.
‘Main’, ya, bukan ‘menggunakan’. Aku masih menggunakan medsos, terutama
Instagram dan Facebook, tapi hanya untuk keperluan yang memang diperlukan,
bukannya untuk stalking akun-akun hiburan apalagi akun gosip.
Hasilnya aku jadi lebih bahagia dan fokus dalam menjalani
hidup. Aku harap efeknya bisa lebih bagus lagi di masa depan.
Omong-omong, aku akan menulis artikel khusus tentang
berhenti menggunakan medsos. Tunggu, ya!
Baca juga: Apa yang Kaucari di Media Sosial?
Baca juga: Apa yang Kaucari di Media Sosial?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mengundang pembaca untuk berkomentar. Gunakan kata yang santun :-) Komentar yang tidak baik atau spam akan dihapus