![]() |
Image by Pixelkult from Pixabay |
Pernah tidak berpikir bahwa dirimu harus menjadi lebih baik lagi di waktu-waktu tertentu? Misalnya saat ulang tahun, tahun baru, sehabis Ramadan, habis wisuda, dan sebagainya?
Kurasa semua orang pernah. Termasuk aku. Aku mau berbagi tentang satu hal dariku yang
sudah hilang dan sebagai gantinya datang yang lebih baik. Sesuai judulnya, ini
berkaitan dengan media sosial. Sebenarnya ada beberapa perbaikan dalam hal lain,
namun kali ini aku mau fokus ke media sosial. Terhitung sejak tahun baru kemarin, ditambah pertambahan umurku beberapa hari lalu, aku resmi menjauh dari media sosial.
Yak, dalam hal itu aku memang sudah mengalami perbaikan.
Tentu saja, aku merasa masih banyak dari diriku yang perlu diperbaiki.
Salah satu alasanku membatasi memakai medsos sampai titik maksimal yang aku bisa adalah karena medsos menyita banyak waktuku. Aku tidak mencapai kemajuan yang memuaskan dalam hidupku yang seharusnya bisa aku capai.
Pikiranku terdistraksi. Kemampuan alamiku, apalagi sebagai seorang introver (tolong kalau masih ada, jangan kalian memandang lebih rendah introver kalau tidak paham definisi aslinya), untuk introspeksi diri dan merenung menjadi tumpul. Aku kurang introspeksi diri dan bersyukur.
Baca juga: Tak Ada Yang Salah Menjadi Introver
Bagaimana aku bisa mengurangi intensitas main medsos? Berikut ini perjalanan yang sudah kulakukan sejak zaman aku masih kuliah beberapa tahun lalu. Iya, beberapa tahun lalu! Betapa proses memang membutuhkan waktu, yang bahkan tidak sebentar (utamanya untuk orang yang tidak istiqomah sepertiku haha). Tapi aku yakin, bagi orang yang lebih serius dariku, proses ini tidak memakan waktu lama.
Salah satu alasanku membatasi memakai medsos sampai titik maksimal yang aku bisa adalah karena medsos menyita banyak waktuku. Aku tidak mencapai kemajuan yang memuaskan dalam hidupku yang seharusnya bisa aku capai.
Pikiranku terdistraksi. Kemampuan alamiku, apalagi sebagai seorang introver (tolong kalau masih ada, jangan kalian memandang lebih rendah introver kalau tidak paham definisi aslinya), untuk introspeksi diri dan merenung menjadi tumpul. Aku kurang introspeksi diri dan bersyukur.
Baca juga: Tak Ada Yang Salah Menjadi Introver
Bagaimana aku bisa mengurangi intensitas main medsos? Berikut ini perjalanan yang sudah kulakukan sejak zaman aku masih kuliah beberapa tahun lalu. Iya, beberapa tahun lalu! Betapa proses memang membutuhkan waktu, yang bahkan tidak sebentar (utamanya untuk orang yang tidak istiqomah sepertiku haha). Tapi aku yakin, bagi orang yang lebih serius dariku, proses ini tidak memakan waktu lama.
- Tanpa uninstall aplikasi, aku mengurangi pemakaian medsos secara manual. Ini Facbeook. Instagram aku masih baru (atau waktu itu malah belum punya?) jadi aku tidak pusing karena ini. Diet FB ini ajaibnya berhasil. Sejak saat itu aku kurang tertarik lagi untuk buka FB sekadar untuk hiburan/mengisi waktu luang.
- Semua aplikasi medsos aku hapus semua. Pertama FB, Path, lalu Twitter yang memang aku jarang pakai, lalu Instagram. Yang terakhir ini butuh waktu lama (baru kulakukan setelah lulus kuliah) sebab saat itu aku aktif di IG dan masih sayang untuk uninstall. Tapi dari dulu aku sudah ada niatan kalau suatu hari harus dihapus.
- Pasca hapus aplikasi IG, tidak bisa langsung berkurang pemakaiannya, tapi ya, memang berkurang. Alhamdulillaah.
- Lalu aku sempat nonaktifkan (deactivate) akun Twitter dan IG. Memang masih bisa lihat-lihat yang ada di sana tanpa log in, tapi pemakaiannya bisa sedikit berkurang lagi.
- Lalu profil aku aktifkan lagi. Pemakaian IG bertambah lagi haha. Ini tidak baik. Begini terus sampai beberapa waktu.
Aku sempat terganggu mentalnya di suatu waktu. Iya,
terganggu mental, tapi bukan gila. Sebut saja, lebih spesifiknya yaitu depresi, dan
sekali lagi, ini bukan berarti aku tidak waras. Bagi yang penasaran, bisa buka
Google untuk cari tahu apa itu sebenarnya depresi.
Baca juga: Apa yang Kaucari di Media Sosial?
Lalu bagaimana bisa aku terserang depresi? Apa ada kaitannya dengan medsos? Bisa jadi, tapi bukan semata-mata sepenuhnya karena itu. Ada hal lain yang memang sudah lama menggangguku sejak sebelum demam medsos menyerang.
Baca juga: Apa yang Kaucari di Media Sosial?
Lalu bagaimana bisa aku terserang depresi? Apa ada kaitannya dengan medsos? Bisa jadi, tapi bukan semata-mata sepenuhnya karena itu. Ada hal lain yang memang sudah lama menggangguku sejak sebelum demam medsos menyerang.
Masa sih depresi? Cuma stres biasa, kali!
Memang aku sempat berpikir seperti itu. Awal-awal muncul
gejalanya, tentu aku berpikir itu cuma stres biasa, yah banyak pikiran gitu
lah. Dan aku yang waktu itu masih awam, menganggap depresi itu memalukan dan
hanya orang yang kurang iman dan hobi galau saja yang bisa terjangkit. Bukannya sombong sih,
walaupun ilmuku tidak setinggi ustazah, tapi aku bukanlah orang yang lemah
iman, jadi kemungkinanku kena depresi kecil.
Lalu kenapa bisa mendiagnosis diri depresi?
Memang aku tidak sampai harus ke psikiater dan diberi
penanganan (syukurlah karena kukira ini depresi ringan), tapi berdasarkan
tanda-tanda yang kubaca, aku cukup yakin ini termasuk depresi. Sestres-stresnya
aku, aku tidak pernah mengalami gejala akut seperti ini:
- Gampang sekali capek dan lebih malas bergerak.
- Gampang sekali mengantuk dan lebih banyak tidur.
- Pekerjaan terbengkalai.
- Tidak ada semangat.
- Sedih atau menangis tiba-tiba, atau malah merasa tak punya emosi. Gampang sedih oleh hal-hal kecil, atau sebaliknya, ketika harusnya emosiku bereaksi terhadap suatu hal, aku malah tak menunjukkan emosi.
- Pandangan mata sering seperti menerawang, tidak seperti biasanya.
- Merasa tidak berharga, menyalahkan diri sendiri.
Terkadang malah penderita tidak sadar kalau sedang mengalami
depresi. Aku juga begitu. Aku kira cuma stres biasa, sampai beberapa hari
setelah mulai masa depresi ada masalah di tempat kerja. Itu membuat kondisiku
bertambah buruk, mencapai titik tertinggi, dan baru saat itu aku baru sadar
kalau aku mungkin sudah kena depresi.
Sejak depresi itu aku berusaha mengurangi pakai medsos, termasuk mencegah untuk buka akun-akun tertentu. Cukup lumayan berhasil. Setelah itu aku berusaha untuk lebih menata hidupku. Aku bersyukur sekali akhirnya bisa keluar dari zona hitam itu, dan untuk itu aku bertekad untuk berubah jadi lebih baik.
Sejak depresi itu aku berusaha mengurangi pakai medsos, termasuk mencegah untuk buka akun-akun tertentu. Cukup lumayan berhasil. Setelah itu aku berusaha untuk lebih menata hidupku. Aku bersyukur sekali akhirnya bisa keluar dari zona hitam itu, dan untuk itu aku bertekad untuk berubah jadi lebih baik.
Tinggalkan soal depresi. Aku masih ingat, tanggal 11
Desember 2018, medsos maniaku kambuh lagi. Aku bangun kesiangan, jam lima pagi,
langit sudah terang, jelas aku telat salat Subuh. Aku merasa sedih, bersalah,
apalagi ingat malam sebelumnya aku memang tidur telat dan hmmm….
Itu gara-gara main HP dan buka-buka IG! Ini bukan yang pertama
terjadi, tapi baru kali ini aku benar-benar tertampar dan ya, aku ingin
berubah. Semoga kali ini aku benar-benar serius, bukan sekadar tobat musiman.
Hari
itu juga aku bikin akun IG baru dengan identitas samaran, karena tak bohong juga
IG berguna untuk cari informasi penting. Aku hanya follow akun yang benar-benar
penting menurutku.
Kenapa bikin akun baru? Kenapa tidak unfollow saja akun yang di-follow oleh akun lama?
Ya, jawaban sederhananya karena di akun lama ada orang-orang
yang kukenal, dan rasanya gimana gitu kalau harus unfollow mereka hahaha. Jadi bikin
akun baru cuma mau bikin akun bodong terus dibuat ngerusuh ya, sama sekali
bukan. Dengan bikin akun baru dengan identitas samaran juga menghilangkan beban
karena jika pakai akun baru dengan identitas asli, maka masih akan
terngiang-ngiang dengan akun lamaku. Selain itu, agar tidak di-follow orang-orang
yang kukenal. Haha, ini serius. Aku tidak mau di-follow mereka, sebab sama saja
dengan alasan sebelumnya: akan terngiang-ngiang akan akun lamaku. Aku ingin
ketika aku buka medsos, yang muncul adalah aku yang baru, bukan aku yang lama yang
gemar membuka medsos hanya untuk sekadar menghabiskan waktu.
Baca juga: Video yang Menginspirasi untuk Segera Menjauh dari Media Sosial
Selain IG, sebelumnya aku juga sudah buka akun baru FB dengan identitas samaran. Aku lihat FB semakin tak kondusif. Banyak orang pamer, banyak orang galau, posting nggak penting. Duh. Setelah itu akun lama aku nonaktifkan. Dan kemudian akun lama IG juga menyusul nonaktif.
Baca juga: Video yang Menginspirasi untuk Segera Menjauh dari Media Sosial
Selain IG, sebelumnya aku juga sudah buka akun baru FB dengan identitas samaran. Aku lihat FB semakin tak kondusif. Banyak orang pamer, banyak orang galau, posting nggak penting. Duh. Setelah itu akun lama aku nonaktifkan. Dan kemudian akun lama IG juga menyusul nonaktif.
Lalu beberapa waktu lalu, karena terpaksa karena suatu hal, aku
unduh lagi aplikasi IG dan login dengan akun lamaku. Dan yang mengejutkanku
adalah, bahkan ketika aku sudah punya aplikasi lagi dan membuka akun lamaku
kembali, aku sama sekali tak tertarik untuk scrolling
endlessly, ngeliatin foto-foto atau buka akun tertentu. Selain hanya
keperluan untuk berkirim pesan (kirim pesan tidak bisa pakai browser biasa, harus pakai aplikasi), aku tidak menggunakan aplikasi untuk hal lain.
Betapa aku sudah berubah! Senang sekali… :’D
Intinya adalah, aku tidak merasa kehilangan sesuatu
karena sudah mendepak banyak porsi medsos dalam kehidupanku. Hidupku masih
berjalan seperti biasa tanpa kekurangan apa pun, bahkan jadi lebih baik dan
memuaskan. Aku tak khawatir menemukan postingan yang berpotensi mengundang rasa
iri, aku tak membuang banyak waktu untuk hal-hal yang jika aku tak melihatnya
pun tak akan membuatku mati, pikiran yang tadinya mudah terdistraksi sekarang jadi bisa lebih fokus, merasa punya lebih banyak waktu, dan tentu saja, aku jadi punya lebih banyak waktu
untuk hal lain yang lebih berguna (membuat blog ini salah satunya).
Keputusan untuk menjauh dari ingar-bingar medsos juga terinspirasi oleh orang-orang yang tetap berprestasi walaupun tidak punya medsos, contohnya dua penulis yang kukagumi: Kazuo Ishiguro dari Inggris dan Tonke Dragt dari Belanda. Bukan karena mereka sudah berumur makanya tidak aktif medsos, bukan, tapi banyak kok bapak-bapak, dan terutama ibu-ibu, yang aktif di medsos. Ditambah lagi, masih banyak kok anak muda yang tidak punya medsos dan asyik dengan dunia nyatanya. Aku punya setidaknya dua hingga tingga sahabat pena yang seperti ini. Mereka tidak paham apa pentingnya harus punya medsos, dan aku mengagumi mereka karena itu.
Medsos memang tidak selamanya buruk. Dengan identitas samaran, aku masih pakai medsos kok, hanya saja masih dalam batas wajar. Dengan begitu banyak sekali beban bisa terangkat dalam hidup. Yang belum melakukannya, coba saja. Sama sekali tak akan rugi.
Keputusan untuk menjauh dari ingar-bingar medsos juga terinspirasi oleh orang-orang yang tetap berprestasi walaupun tidak punya medsos, contohnya dua penulis yang kukagumi: Kazuo Ishiguro dari Inggris dan Tonke Dragt dari Belanda. Bukan karena mereka sudah berumur makanya tidak aktif medsos, bukan, tapi banyak kok bapak-bapak, dan terutama ibu-ibu, yang aktif di medsos. Ditambah lagi, masih banyak kok anak muda yang tidak punya medsos dan asyik dengan dunia nyatanya. Aku punya setidaknya dua hingga tingga sahabat pena yang seperti ini. Mereka tidak paham apa pentingnya harus punya medsos, dan aku mengagumi mereka karena itu.
Medsos memang tidak selamanya buruk. Dengan identitas samaran, aku masih pakai medsos kok, hanya saja masih dalam batas wajar. Dengan begitu banyak sekali beban bisa terangkat dalam hidup. Yang belum melakukannya, coba saja. Sama sekali tak akan rugi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mengundang pembaca untuk berkomentar. Gunakan kata yang santun :-) Komentar yang tidak baik atau spam akan dihapus