- Agar membentuk mental yang lebih kuat.
- Agar jadi lebih bijak.
- Agar instrospeksi diri.
Dan mungkin ada maksud-maksud lainnya.
Walau kurang nyaman, tapi introspeksi diri ini memang nyata dan perlu. Ketika aku diberi satu cobaan yang sampai saat ini masih aku pertanyakan mengapa, aku awalnya tidak mau introspeksi diri.
Aku memilih untuk ‘menyalahkan’ Tuhan. Mengapa Dia memberiku ‘kesialan’, padahal Dia dengan murah hatinya mengabulkan doa orang lain dan membuat mereka bahagia.
Namun seiring berjalannya waktu, aku bisa dengan sendirinya introspeksi diri tanpa aku menyadarinya.
Ketika sedang sedih, kamu pasti butuh pegangan. Dan salah satu peganganmu sudah pasti berdoa. Nah, ketika aku berdoa minta pegangan Allah, saat inilah aku otomatis instrospeksi diri.
Ketika sedang sedih, otomatis kita jadi lebih sering berdoa. Inilah pokoknya. Sering berdoa. Sesuatu yang kamu, dan aku, tidak sering dilakukan ketika sedang tidak ada masalah. Bahkan ketika sedang bahagia.
Aku jadi menyadari kalau aku kurang berdoa.
Aku adalah manusia yang sombong
Kata ustaz-ustaz yang ceramahnya aku dengar di YouTube, manusia yang tidak berdoa itu sombong. Merasa tidak butuh Tuhan, dan Tuhan tidak suka orang yang sombong. Manusia jadi lebih sering berdoa ketika sedang dilanda musibah. Kemana mereka ketika sedang senang? Mereka seakan lupa Tuhan.
Padahal Allah suka jika hambaNya berdoa. Meminta. Sebanyak-banyaknya. Tak peduli seberapa berdosa hamba tersebut. Pokoknya doa saja.
Aku sempat merasa seperti ini. Bahkan ketika aku punya keinginan besar, aku nggak berani meminta. Aku nggak mau sering-sering berdoa. Kenapa? Karena aku merasa punya banyak dosa. Nggak enak minta-minta.
Padahal, Allah senang jika hambaNya meminta-minta…
Dan juga, aku merasa kalau Allah sudah pasti tahu apa yang aku inginkan. Aku nggak perlu mengucapkannya dengan lisan dan berdoa.
Tapi aku sombong. Dan itu yang membuatku (tetap) jauh dari Allah.
Terapi doa untuk manusia sombong
![]() |
Yang aku sadari setelah lebih sering berdoa, aku jadi lebih dekat dengan Allah. Aku tidak malu lagi meminta. Aku tidak punya lagi pikiran bahwa manusia yang banyak dosa tidak berhak berdoa. Yang ada, karena aku jadi lebih dekat dengan Allah, kesempatan untuk berdosa (mudah-mudahan) berkurang.
Gimana, sih, rasanya bergantung kepada sesuatu? Tergantung. Bisa positif, bisa tidak. Namun jika bergantung pada Tuhan, aku bisa bilang kalau ini selalu positif.
Ambil analogi seorang anak yang suka meminta pada bapaknya. Pengen permen. Pengen bakso. Pengen dibelikan buku. Pengen diajak jalan-jalan.
Dan si bapak mengabulkan. Langsung dikabulkan maupun tidak langsung. Serupa maupun dalam bentuk lain yang lebih baik.
Seperti itulah kamu meminta pada Tuhan. Minta untuk hal-hal terkecil. Hal-hal remeh, yang saking remehnya, kamu tidak begitu peduli apakah langsung dikabulkan atau tidak. Apakah dalam rupa yang exactly kamu minta atau tidak.
Dan ketika hal-hal remeh itu terjadi, kamu akan senang bukan main...
Tanpa aku sadari, kebiasaan berdoa ini menjadi terapi bagiku. Aku membiasakan bersyukur atas nikmat Allah mulai dari hal-hal kecil. Ini jadi satu cara menghilangkan kesombongan dalam diri.
Aku yang sebelumnya kecewa sama Allah, sekarang perlahan berbaik sangka lagi. Aku yang sebelumnya jauh dari Allah, sekarang makin terasa lebih dekat. Saking dekatnya, aku jadi semakin sering ‘berdialog’ sama Allah. Meminta, berdoa, bahkan untuk hal-hal remeh.
Karena sering berdialog sama Allah itulah, aku merasa semakin dekat denganNya. Pasti pernah, kan, sering ngobrol sama seseorang, lama-lama merasa akrab dan nyaman? Seperti itu.
Dan ketika perasaan seperti itu hadir, itu bisa menghapus perasaan negatif dan diganti dengan lebih banyak cinta. Inilah penghancur kesombongan.
Aku mungkin masih mempertanyakan mengapa Allah menimpakan cobaan itu padaku, tapi fokusku bukan lagi melulu ke situ. Fokusku adalah memperbaiki diri, dan aku senang, setidaknya aku sudah tahu kalau aku dulu sombong.
Dan tidak baik untuk jadi manusia sombong, apalagi sombong pada Tuhan. Sungguh aku menyesal.
Bagaimana dengan kamu? Ada baiknya kamu mulai bertanya pada dirimu sendiri: “Aku sombong nggak?” atau “Apakah aku sombong?”
Kalau iya, kenapa kamu sombong?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mengundang pembaca untuk berkomentar. Gunakan kata yang santun :-) Komentar yang tidak baik atau spam akan dihapus